Oleh : Muhammad Iqbal A (mantan Caketum yang kalah)
Pertama, Jujur aja kalau semisal ini diangkat, mungkin sedikit terlambat karna emang udah beberapa minggu dari pelaksanaan Musycab XXIV PC IMM kota Salatiga. Dan kedua, ini pandangan subjektif dari salah satu “mantan” Calon ketua umum. Jadi semisal ada asumsi kalau ini adalah tulisan patah hati karna kekalahan kemarin, ini akan gue jawab juga di tulisan ini.
Perlu disadari, bicara mengenai Pra Musycab, kedua caketum melancarkan sebuah strategi yang berbeda. Fahmi Febrianto (Ketua umum terpilih) menggunakan strategi politik yang mungkin biasa dilakukan oleh siapapun yang mencalonkan diri sebagai seorang pimpinan. Mulai dari mengumpulkan ketua umum, menjadi moderator SG ketika pembukaan, bahkan dengan terang-terangan duduk bersama dengan kader Ikatan. Salah satu strategi unik yang dibawa oleh Fahmi (sapaannya), menurut hemat gue, adalah dengan memberanikan diri mengumpulkan orang-orang yang memang “kurang menyukai” dirinya secara personal. Bahkan, terdapat beberapa “bocoran” adanya kontrak politik juga yang dibangun walau perlu diketahui jika dalam dunia politik terdapat sebuah kesepakatan tidak tertulis “Apa atau siapa dapat apa?”. Dan ini adalah point plus yang dimiliki oleh Fahmi sebagai ketua Bidang Hikmah PC IMM Salatiga 2023 yang mana gue rasa sudah pasti Fahmi lebih paham betul mengenai strategi politik dan segala bentuk akibatnya. Dan bicara mengenai “apa atau siapa dapet apa?” itu adalah sesuatu yang tidak bisa disalahkan sama sekali.
Selanjutnya gue akan membahas bagaimana suara gue bisa kalah padahal (bisa dibilang) gue paling sering datang duduk bersama kader IMM Salatiga ketika mereka mengadakan diskusi internal?
Strategi yang gue gunakan adalah dengan cara “kalau lu butuh gue, ya lu pilih gue”. Kenapa pakai strategi ini? karna memang (mode sombong : On) selama satu periode gue sebagai Ketua Korps Instruktur Salatiga walau gue masih duduk anteng di Komisariat, gue sendiri lebih konkret pergerakan pembaharuanya dari pada Fahmi. Kenapa gue berani bilang itu? karna periode gue di Korps Instruktur banyak pembaharuan yang gue dan tim ciptakan. Mulai dari merevisi instrument perkaderan yang sudah digunakan, analisis permasalahan perkaderan, sampai pembiasaan digitalisasi dalam perkaderan.
Gue sendiri sadar bahwa ada resiko yang akan gue tanggung disini, salah satu resikonya adalah kalah dalam suara. Kenapa demikian? Karna tidak ada kontrak politik “siapa atau apa dapat apa?” padahal jika bicara soal dukung mendukung, perlu adanya kejelasan dalam sikap politik. Selesai gue bahas strategi “kampanye” kedua (mantan) Calon ketua umum. Selanjutnya gue bahas Grand design dan strategi debat kedua (mantan) Calon ketua umum.
Secara garis besar, gue sama Fahmi emang punya grand design yang sama. Sama-sama soal pengembangan dan pendayagunaan sumber daya manusia. Yang membedakan keduanya terletak pada Fahmi mencoba memberikan solusi instan dengan melakukan kolaborasi dengan setiap elemen yang ada di PC IMM Salatiga dan gue sendiri mencoba membangun semuanya dari pondasi awal dan memang salah satu akibatnya adalah ketua umum berikutnya harus sejalan dengan grand design gue. Dah itu aja buat soal grand design. Lanjut ke Debat.
Di sini gue akan masuk dari gue sendiri dulu. Di debat kemarin, gue menggunakan strategi pick me banget. Kenapa tuh? Mulai dari sikap santai, jawaban yang sekenanya dan terkesan tidak jawab dulu mikir belakangan, ditambah gue sendiri menyatakan bahwa kalau gue kepilih gue akan menjadi pemimpin yang menyebalkan. Bahkan di Live Instagram pun sampai ada yang bilang “Iqbal sikapnya nyantai banget, tapi jawabannya makjleb” Kurang pick me apa lagi coba? (emot ketawa ngakak pake tulisan👍🏻)
Masuk ke ketua terpilih. Fahmi memunculkan sebuah sikap yang sangatlah mampu menghipnotis para musyawirin. Kenapa demikian? Mulai dari sikapnya yang “mencoba” tegas sampai jawaban-jawaban dari musyawirin yang sangat Fahmi pikirkan sebelum dia katakan. Dan menurut gue dengan point plus yang Fahmi perlihatkan ketika debat, sudah cocok betul dia buat jadi ketua umum terpilih. Selesai gue bahas soal debat.
Musycab sudah selesai dan ketua umum terpilih pun sudah ditentukan. Terlepas dari strategi politik dari kedua “mantan” calon ketua umum, perlu disadari ada beberapa percikan api yang masih menjadi PR buat ketua umum terpilih. Dan sebagai mantan atlet juga, gue ada komitmen buat fair atas kekalahan yang gue dapet. Di Musykorps Instruktur beberapa hari lalu, gue bilang “kalau emang instruktur butuh bantuan, gue siap bantu”. Kenapa gue bilang ini ke Instruktur, karna kalau semua-muanya dipegang sama Fahmi, Dia agak bingung soal kaderisasi. Dan dengan posisi gue saat ini yang gue juga menolak duduk di kursi yang ditawarkan Fahmi di Pimpinan Cabang, maka gue bisa menjadi “partner kritis” nya Fahmi dan kawan-kawan pimpinan cabang periode kedepan. Dan semoga, semua yang diwacanakan ketua umum terpilih bisa terlaksanakan.
Terakhir, pertanyaan soal "Apakah ini tulisan patah hati?" jawaban gue, Lu pernah liat gue kecewa soal beginian? Dan kalau lu pikir gue patah hati, lu mikir ngg, kenapa gue bangun komitmen sama Korps Instruktur? bisa lu jawab di kolom komentar kalau lu dapet jawaban dari pertanyaan gue😂

Tidak ada komentar:
Posting Komentar