Di abad 21 ini kampanye tentang nilai-nilai moderasi semakin sering terdengar setelah ratusan tahun tertidur karna wafatnya seorang rasul yang membawa nilai-nilai moderasi itu sendiri. Akan tetapi, masih banyak masyarakat yang belum mengenal apa itu nilai-nilai moderasi? mengapa kita harus bersikat moderat? siapa sebenarnya yang menciptakan teori moderasi ini? dan Bagaimana caranya bersikap moderat? Beberapa pertanyaan diatas mungkin juga luput dari perhatian para ahli yang mengkampanyekan nilai-nilai moderasi itu sendiri. Harapannya, tulisan ini bisa menjadi salah satu penyempurna sesuatu yang hilang dari kampanye nilai moderasi itu sendiri.
Istilah
moderasi sendiri berasal dari kata bahasa inggris moderate yang bisa
diartikan dengan sesuatu yang tidak berlebih, tidak ekstrim, dan segala sesuatu
yang sifatnya tidak condong terhadap satu padndangan.
Moderasi
sendiri dewasa ini sering diartikan dengan “tengah-tengah” maksudnya tidak ekstreem
kanan maupun ekstreem kiri dan pengertian itu juga yang menjadi satu
kelemahan dari kampanye moderasi itu sendiri. Hal in berdasarkan kepada sifat
alamiah manusia yang enggan untuk dipaksa meninggalkan apa yang mereka
percayai. Dan kata “tidak” sendiri memiliki sifat memaksa (syariat).
Sehingga diskursus yang terjadi menjadi bersifat dogmatis dan dan hanya
berkutat pada pengertian saja. Padahal, jika kita memahami minat literasi di
Indonesia sendiri sangatlah rendah dan jika hanya berkutat pada nilai-nilai
dogmatis, maka tujuan dari wacana nilai-nilai moderasi sendiri akan sukar
tercapai.
Pada era
filsafat Yunani kuno, seorang filsuf bernama Aristoteles mengemukakan
pendapatnya tentang nilai-nilai moderasi era modern secara tidak langsung.
Dalam pendapatnya itu, ia mengemukakan bahwa segala sesuatu yang baik selalu
berada diantara 2 hal yang tidak baik, atau lebih tepatnya berlebihan dan juga
saling bertolak belakang. Sebagai contoh, sifat “berani” berada diantara 2
sifat yang berlebihan dan berto;ak belakang, yaitu sifat “pengecut” dan sifat
“nekad”. Contoh lain adalah sifat “dermawan” berada diantara 2 sifat yang
berlebihan dan bertolak belakang juga, yaitu “pelit” dan “boros”.
Aristoteles
sendiri dilahirkan di kota Stagira, kota di wilayah Chalcidice, Thracia,
Macedonia tengah tahun 384 SM. Ayahnya yang benama Nicomacus adalah seorang
tabib pribadi Raja Amyntas III dari Macedonia. Ayahnya meninggal ketika
Aristoteles berusia 15 tahun. Karena itu, ia kemudian di asuh oleh pamannya
yang bernama Proxenus. Pada usia 17 tahun, Aristoteles pergi ke Athena balajar
di Akademi Plato dan menjadi murid Plato. Kemudian ia diangkat menjadi seorang
guru selama 20 tahun di akademi tersebut. Di bawah asuhan Plato dia menanamkan
minat dalam hal spekulasi filosofis. Aristoteles merupakan orang pertama di
dunia yang dapat membuktikan bahwa bumi bulat. Pembuktian yang dilakukannya
dengan jalan melihat gerhana. Sepuluh jenis kata yang dikenal orang saat ini
dengan kata benda, kata sifat, kata benda dan sebagainya, merupakan pembagian
kata menurut pemikirannya.
Dengan meninggalya Plato pada tahun 347 SM, Aristoteles
meninggalkan Athena dan mengembara selama 12 tahun. Dalam jenjang waktu itu ia
mendirikan akademi di Assus dan menikah dengan Phytias yang tak lama kemudian
meninggal. Ia lalu menikah lagi denga Herpyllis yang kemudian memberikan ia
seorang anak laki-laki yang akhirnya ia beri nama Nicomacus seperti ayahnya.
Pada tahun-tahun berikutnya ia juga mendirikan akademi di Mytilele. Saat itulah
ia sempat menjadi guru Alexander Agung selama tiga tahun.
Di tahun 335 SM, sesudah Alexander naik tahta kerajaan, Aristoteles
kembali ke Athena dan mendirikan semacam akademi di Lyceum. Di sinilah selama
12 tahun ia memberikan kuliah, berpikir, mengadakan riset dan experimen serta
membuat catatan-catatan dengan tekun dan cermat. Dalam masa kepemimpinannya
Alexander Agung tidak meminta nasehat kepada bekas gurunya, tetapi ia berbaik
hati menyediakan dana bagi Aristoteles untukmelakukan riset dan experimen. Hal
ini mungkin menjadi contoh pertama dalam sejarah seorang ilmuan menerima jumlah
dana yang besar dari pemerintah untuk maksud penelitian atau penyelidikan.
Walaupun begitu, hubungan Aristoteles dengan Alexander Agung
diliputi oleh berbagai macam polemik. Aristoteles menolak secara prinsipil cara
kediktatoran Alexander, apalagi ketika Alexander menghukum mati sepupu Aristoteles
dengan tuduhan pengkhianatan. Alexander memandang Aristoteles terlalu
demokratis hingga ia memiliki fikiran untuk membunuhnya pula. Tetapi
Aristoteles memiliki hubungan yang erat dengannya dan sangat dipercaya oleh
orang-orang Athena, sehingga Alexander mengurungkan niatnya. Kemudian Alexander
meninggal pada tahun 323 SM dan golongan anti Macedonia memegang tampuk
kekuasaan di Athena. Aristoteles didakwa kurang ajar kepada dewa dikarenakan
penelitian-penelitian yang ia lakukan. Kerena takut di bunuh orang Yunani yang
membenci pengikut Alexander, Aristoteles akhirnya melarikan diri ke Chalcis.
Satu tahun setelah pelariannya ke kota itu, tepat pada tahun 322 SM,
Aristoteles meninggal pada usia 62 tahun.
Pemikiran
1. Logika
Salah satu
peninggalan Aristoteles dalam dunia filsafat adalah dalam bidang logika yang biasa
disebut dengan silogisme. Silogisme sendiri diartikan dengan uraian
terkunci, atau secara pergetian lainnya adalah menarik kesimpulan dari 2
kenyataan (umum-khusus) untuk mendapatkan premis baru yang tepat dari keduanya.
Contoh :
~ Premis a “semua manusia akan mati”
~ Premis b “Dia adalah manusia”
Δ Premis ab “Dia
akan mati”
2. Filosofia teoritika
a. Fisika : Menurut
Aristoteles, segala sesuatu yang ada didunia terdiri dari 2 materi yang
memiliki sifat berbeda yang mana digerakkan oleh penggerak pertama (saat ini
dinamakan tuhan, akan tetapi Aristoteles tidak menyebutnya dengan istilah
tuhan).
b. Matematika :
Aristoteles berpendapat bahwa logika harus dureapkan pada semua
bidang ilmu, termasuk matematika. Analisis diperlukan untuk membangun
aksioma-aksioma yang terdapat di dalam matematika
c. Metafisika :
Aristoteles menolak apa yang diajarkan oleh gurunya (plato) yang mengatakan memisahkan
dunia nyata dan alam idea. Menurutnya, apa yang sudah ada didunia ini adalah
gabungan dari suatu yang nyata (metter) dan memiliki esensi (form).
Singkatnya, segala sesuatu yang ada didunia ini memiliki wujud benda dan bentuk
dan keduanya tidak dapat dipisahkan
3. Filosofia
praktika
a. Etika
Menueut Aristoteles, semua manusia pada dasarnya adalah orang yang baik, namun dikarnakan faktor lingkungan seorang manusia dapat berubah. Sehingga, menurutnya polis yang ideal adalah sebuah komunitas dari kumpulan individu yang tidak memiliki kedudukan yang mengarah kepada kebaikan yang sebaik mungkin
b. Politik
Dalam hal ini, Aristoteles menawarkan 3 bentuk negara
yang menurutnya yang terbaikakan tetaoi menurutnya jenis negara yang baik Monarki;
Aristokrasi; Demokrasi. Akan tetapi, menurtnya negara paling yang berazaskan
kepada aristokrasi dan demokrasi.
4. Filosofia
Aktiva
Ia berpandangan bahwa sebuah karya
seni adalah sebuah perwujudan artistik yang merupakan hasil chatarsis disertai
dengan estetika. Chatarsis adalah pengungkapan kumpulan perasaan yang
dicurahkan ke luar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar