Bagaimana jika yang kita alami saat ini hanyalah sebuah proyeksi dari sesuatu yang “sebenarnya”? bagaimana jka apa yang kita tempati ini hanyalah tempat yang hanya membuat kita nyaman karna kita merasa apa yang kita lihat adalah kenyataan? Bagaimana jika “KURSI” yang kita lihat BUKANLAH kursi yang sebenarnya? Dan alasan mengapa kita tidak dapat mencapai sana adalah karna kita terbatas oleh ruang dan waktu. Dan pernyataan ini pertama kali di ungkapkan oleh seorang filsuf yang juga menjadi guru dari Aristoteles, Plato.
Biografi singkat Plato
Plato lahir pada tahun 428/7 SM dalam suatu keluarga terkemuka di Athena. Ayahnya bernama Ariston, seorang bangsawan keturunan raja Kodrus, raja terakhir Athena yang hidup sekitar 1068 SM yang sangat dikagumi rakyatnya oleh karena kecakapan dan kebijaksanaannya memerintah Athena, dan ibunya bernama Priktione. Keturunan Solon, tokoh legendaris dan negarawan agung Athena yang hidup sekitar seratus tahun lebih awal dari Priktione. Sesudah Ariston meninggal, Priktione dinikahi pamannya yang bernama Pyrilampes. Plato meninggal di Athena pada tahun 347 SM dalam usia 80 thun. Plato berasal dari keluarga aristokrasi yang turun temurun memegang peranan penting dalam politik Athena. Sebuah keluarga bangsawan Athena yang kayaraya, yang hidup ketika Yunani menjadi pusat kebudayaan besar selama empat abad. Generasi orang tua dan kakeknya sudah hidup selama setengah abad kebangkitan Athena menuju kebesaran dan kekuasaannya yang paling hebat, dan secara langsung keluarga Plato terlibat aktif dalam kehidupan politik di kotanya.
Masa keemasan Athena, masa Pericles, yang bertahan antara 445-431 SM muncul sebagai citra kesempurnaan dalam kehidupan peradaban manusia. Bisa dikatakan bahwa dunia Barat telah memiliki kisah cinta yang panjang dengan Athena, sebagai teladan dan model, dibandingkan kota-kota lain dalam sejarah manusia, kecuali mungkin Yerusalem. Hubungan dengan Yerusalem di sini bukan sebagai kota ideal, melainkan hanya dalam hal penghargaan kepada orang besar yang hidup di Yerusalem dan kejadian-kejadian suci di sana. Kenapa Athena dianggap kota kuno yang memiliki kisah cinta yang panjang? Athena adalah teladan demokrasi pertama, Athena adalah kota yang dianugrahi keunggulan pikiran dan tubuh manusia, filsafat, seni dan ilmu pengetahuan, serta berseminya seni kehidupan. Plato pun bercita-cita sejak mudanya untuk menjadiorang Negara. Tetapi perkembangan politik di masanya tidak memberi kesempatan padanya untuk mengkuti jalan hidup yang diinginkannya itu
Nama Plato yang sebenarnya ialah Aristokles, kemudian ia diberi nama baru oleh guru pelatih senamnya "Plato". Plato dalam bahasa Yunani berasal dari kata benda "platos" (kelebarannya/lebarnya) yang dibentuk dari kata sifat "platus" yang berarti (lebar). Dengan demikian, nama "Plato" berarti "si lebar". Julukan yang diberikan pelatih senamnya itu begitu cepat populer dan menjadi panggilannya sehari-hari, bahkan kemudian menjadi nama resmi yang diabadikannya lewat seluruh karyanya. Plato memperoleh nama baru itu berhubungan dengan bahunya yang lebar, sepadan dengan badannya yang tinggi dan tegap. Raut mukanya, tubuh serta parasnya yang elok bersesuaian benar dengan ciptaan klasik tentang manusia yang cantik. Bagus dan harmoni meliputi seluruh perawakannya. Tubuh yang besar dan sehat itu bersarang pula pikiran yang dalam dan menembus. Pandangan matanya menunjukkan seolah-olah Plato mau mengisi dunia ini dengan cita-citanya.
Plato sendiri adalah murid dari Sokrates yang juga seorang filsuf kenamaan di era Yunani awal. Plato mulai mengikuti pelajaran Socrates sejak berumur 20 tahun. Banyak pelajaran dari Socrates yang memberikan kepuasan pada diri Plato. Akibatnya, pengaruh pemikiran Socrates semakin hari, semakin tertancap dalam benaknya. Diusianya tersebut, Plato bahkan telah banyak menulis tentang Socrates.
Saat masih kecil sekali, Plato mendapatkan banyak materi diluar pelajaran umum. Ia telah belajar untuk melukis, bermain musik, serta menulis puisi. Bahkan, sebelum beranjak dewasa, Plato sudah dikenal sebagai sosok yang ahli dalam membuat sajak. Itulah juga alasan mengapa tulisan-tulisannya begitu indah namun sukar dipahami.
Mengenal alam idea plato
Salah satu pemikiran plato yang paling memberikan bekas pada tiap—tiap diskusi mengenai filsafat dewasa ini adalah pemikirannya tentang alam idea. Yang mana menurut plato, manusia, hewan, bahkan alam semesta ini berasal dari alam idea yang hanya dapat dijangkau oleh akal dan bukan indera.
Menurut plato sendiri, alam ide adalah “tempat” asal-usul segala sesuatu. Yang ada di sana adalah bentuk paling sempurna dari benda-benda yang ada di dunia inderawi. Sebelum terlahir di dunia, menurut Plato, kita semua berasal dari dunia ide.
Sebelum kita mengenal pohon, ataupun kucing misalnya, kita sudah mengetahui bentuk sempurna nya di dunia ide. Tepatnya sebelum kita dilahirkan. Sebenarnya, apa yang kita lakukan sekarang ini, dan apa yang kita sebut pengetahuan adalah proses mengingat-ingat memori dunia ide sebelum terlahir ke dunia.
Ketika pertama kali melihat kucing misalnya, sebenarnya kita langsung mengingat kembali menganai ‘ide kucing’ yang dulu pernah kita lihat sebelum dilahirkan. Menurut Plato, posisi ‘ide kucing’ itu adalah bentuk paling sempurna. Ini berkaitan dengan dunia kedua menurut Plato, yaitu dunia realitas inderawi.
Plato memberikan contoh bahwa dunia ini tidak sempurna dengan menggunakan matematika. Dalam matematika, kita dapat menemui lingkaran sempurna. Namun, dalam dunia nyata, kita selamanya tidak akan menemukan lingkaran yang betul-betul sempurna. Lingkaran sempurna hanya didapatkan melalui matematika, atau menurut Plato, melalui akal manusia.
Begitulah Plato menjelaskan perbedaan yang mendasar antara dunia ide dan dunia realitas inderawi. Menurutnya, jika seseorang mengetahui pemahaman sempurna dalam dunia ide, maka kondisi fisik yang tertangkap indera tidak lagi penting.
Karena kebebasan sejati, menurut Plato, terletak di dunia ide. Ia kemudian menganggap bahwa kebenaran yang ingin diungkapkan Socrates, sejatinya adalah kebenaran dunia ide yang derajatnya lebih tinggi daripada dunia inderawi.

