Sama kek di judul, tulisan kali ini akan berisi pembahasan yang sedikit vulgar karna kebetulan abis ngobrol sama temen soal ayat Al Quran yang Artinya (Sorry laptop gw kalau nyambung internet agak lag, jadi gw cantumkan artinya aja dan lu nyari ayatnya sendiri yak (itung-itung sekalian buka kitab suci klean yang sudah bedebu itu)) :
Istri-istrimu adalah ladang bagimu. Maka datangilah ladangmu kapan saja dan dengan cara apasaja yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah Swt, dan ketahuilah bahwa jamu kelak ajan menemuiNya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman (QS : 2, 223)
Manusia-manusia uneducated (Orang bodoh akan menyadari dirinya bodoh, orang tolol masih akan tersadar jika ada yang mengatakan mereka tolol, tapi uneducated ya emang tidak berpendidikan aja –Bukan tidak bersekolah. Karna yang sekolah pun banyak yang tidak terdidik/dididik dengan baik dan benar) akan menganggap bahwa “Islam bahasannya kok soal selang****an? Abis itu juga kok ayat ini kayak ngegambarin kalau perempuan hanyalah pemuas nafsu laki-laki?”
Gini brok..
Kok Islam bahas soal cocok tanam?
Itulah kehebatan islam. Bahkan dalam bercocok tanam pun ada nilai-nilai ibadahnya. Yang artinya apa? Selain mendapat “kesenangan” dunia, muslimin dan muslimat juga akan mendapatkan ganjaran di akhirat. Tapi ini konteksnya ke mereka yang sudah bersuami-istri. bukan remaja labil ganggu yang tau-tau beli kond*m ke Alfamart sambil malu-malu. Itulah alasannya gw juga mencantumkan “Obrolan dewasa” di judul karna yaa emang mereka yang menikah adalah orang yang sudah dewasa (menurut gw). Soalnya orang gila mana yang mau hidup sama orang baru selama bertahun-tahun tanpa kepastian masa depan padahal mereka bisa terus bersenang-senang bareng keluarga atau temannya? Yaa dewasa adalah istilah lain dari berani ambil resiko dan terus menjadi gila (menurut gw).
“Terus ayat ini Cuma menggambarkan bahwa laki-laki bisa semena-mena dengan perempuan. seakan mereka hanya pemuas nafsu laki-laki”
Gini brok... alasan penggunaan istilah “ladang” dalam ayat ini dari sudut pandang gw karna memang itulah perempuan. “kenapa tuh bwang?” karna ladang perlu dirawat, ladang perlu diberi pupuk yang baik, ladang perlu diberikan kesempatan untuk beristirahat agar lebih produktif. Pun perempuan juga gitu (laki-laki juga gitu sih cuma gengsinya aja yang gede. Biar keliatan kuat gitulah pokok nya) mereka perlu dirawat, mereka perlu diberikan pupuk yang baik atau istilah lainnya adalah nafkah lahir dan bathin, dan soal istirahat maksudnya adalah jangan sampai perempuan memainkan semua peran. Jadi Istri, jadi Ibu, Jadi guru buat anaknya (kalau punya anak), Jadi tukang masak, jadi tukang bersih-bersih, dan peran-peran lainnya. Padahal ketika tanah terus memproduksi sesuatu maka tanah tersebut akan menjadi kurang produktif. Tapi bukan berati laki-laki juga harus ngerjain semuanya dan perempuan hanya menjadi bangkai yang klemar-klemer di Kasur ngg ngapa-ngapain karna kalau gitu kasian laki-laki dong. Solusinya Cuma satu, bagi tugas denga fleksibilitas dengan motto “Ya kalau ngg ada yang ngerjain, ya gw yang ngerjain” terlebih untuk barang milik bersama kek alat masak, alat makan, rumah, dsb.
Nah dengan demikian, kontekstualisasi dalam berkeluarga sesuai dengan syariat bisa dilaksanakan jika memang tidak terjadi pratiarkisme berlebih atau matriarkisme berlebih. Karna segala sesuatu yang berlebihan itu (katanya) tidak baik